Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel

Bagaimana Menjadikan Safar Anda Menyenangkan? (Bag.1)

Bagaimana Menjadikan Safar Anda Menyenangkan? (Bag.1)

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Saudaraku: Telah maklum bahwa kebanyakan safar orang-orang di masa-masa liburan mereka berbeda-beda sesuai arah safar mereka. Sebagian orang bersafar untuk melakukan ketaatan dan kedekatan kepada Allah, lalu menghadapkan muka ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam sebuah rekreasi iman yang sangat menakjubkan. Sebagian yang lain bersafar untuk bersenang-senang bersama keluarga atau taman-teman mereka. Safar semacam ini hukumnya boleh saja asalkan tidak membawa kemungkaran dan penyimpangan-penyimpangan. Ada juga mereka yang melakukan safar penuh berkah, dimana di dalamnya ia memberi manfaat dan mendapat manfaat, mengajar dan belajar, ia bersafar untuk ilmu dan menuntut ilmu. Namun sayang sekali sebagian mereka—semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan mereka—melakukan safar bersama Syetan ke negara-negar Barat dengan tujuan-tujuan yang buruk. Safar semacam ini tentu hukumnya haram, dan orang yang melakukannya dimurkai Allah.

Barangkali baik bagi saya di sini untuk menjelaskan—dengan memohon pertolongan Allah—beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang musafir: sebelum ia bersafar, saat dalam safar dan setelah pulang dari safar. Namun sebelum itu saya ingin menceritakan sebuah kisah, semoga bisa menjadi penghalang keinginan sebagian mereka yang hendak melakukan safar-safar haram: “Seorang lelaki pergi ke sebuah negeri kafir, lalu teman-temannya memasukkan seorang wanita pelacur ke dalam kamarnya. Ketika ia berzina, bermaksiat kepada Tuhan langit dan bumi, Allah mencabut nyawanya dan ia mati dalam kondisi seperti itu.” Kita memohon perlindungan dari su’ul khatimah (kematian yang buruk).

Adab-Adab Safar

Pertama: Jika hendak bersafar, seyogyanya melakukan hal-hal berikut:

1. Melakukan shalat istikharah jika merasa ragu. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibn Abdullah— may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: “Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention mengajarkan kami beristikharah dalam segala urusan seolah beliau mengajarkan kami suatu surat Al-Quran. Beliau bersabda: ‘Jika salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam suatu urusan maka shalatlah dua rakaat—yang bukan shalat wajib—lalu berdoalah: ‘Ya Allah, sungguh aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, meminta kekuatan pada-Mu dengan kekuatan-Mu dan memohon pada-Mu dari anugerah-Mu yang agung. Sungguh Engkau Mahakuasa dan aku tidak berkuasa, Engkau Maha mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Zat Yang Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, jika dalam pengetahuan-Mu bahwa urusan ini baik bagiku dalam Agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku—(atau beliau bersabda: urusan duniaku dan urusan Akhiratku)—maka kuasakanlah aku atas urusan itu, mudahkanlah ia bagiku, lalu berkahilah aku padanya. Dan jika dalam pengetahuan-Mu bahwa bahwa urusan ini buruk bagiku dalam Agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku—(atau beliau bersabda: urusan duniaku dan urusan Akhiratku)—maka singkirkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Kemudian takdirkanlah bagiku kebaikan di mana saja ia berada, lalu ridhailah aku dengannya.' Kemudian ia sebutkan apa keperluannya itu.’” [HR. Al-Bukhari].

2. Mencari teman yang shalih dalam safar, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa`id  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Janganlah engkau akrab berteman kecuali dengan seorang Mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” [HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad]. Janganlah seseorang melakukan safar sendirian, karena diriwayatkan dari Ibnu `Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Kalaulah manusia mengetahui apa yang aku ketahui pada (kondisi) kesendirian itu niscaya tak seorangpun yang mau berjalan sendirian di malam hari.” [HR. Al-Bukhari]. Diriwayatkan pula dari Ibnu `Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa: “Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention melarang kesendirian: yaitu menginap sendiri atau musafir sendiri.” [HR. Ahmad].

3. Memberikan ucapan selamat tinggal kepada keluarga, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu `Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: “Sesungguhnya Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention apabila hendak meninggalkan seseorang, beliau memegang tangan orang itu dan tidak melepaskannya sampai orang itulah yang melepaskan tangan Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention ­lalu bersabda: ‘Aku titipkan Agamamu, amanatmu dan ujung baik amalanmu kepada Allah.’ [HR. At-Tirmidzi].

4. Mempelajari hukum-hukum shalat Qasar dan Jamak, setidaknya dengan membacanya dari buku.

5. Mengembalikan amanat dan titipan kepada pemiliknya (sebelum berangkat).

6. Memeriksan kondisi kendaraan.

7. Hendaknya memilih hari Kamis untuk safar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ka`b Ibn Malik  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: “Sangat jarang sekali Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention keluar bersafar kecuali pada hari Kamis.” [HR. Al-Bukhari].

8. Berangkat di malam hari, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Hendaklah kalian berangkat di awal malam, karena dunia dilipat (diperpendek jaraknya) pada malam hari.” [HR. Abu Dawud].

9. Menunjuk penanggung jawab (pemimpin) dalam perjalanan, supaya mereka dapat bersepkat, untuk beristirahat maupun meneruskan perjalanan, dan supaya tidak saling menyulitkan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa`id  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Jika tiga orang keluar dalam sebuah safar maka hendaklah menjadiakn seroang di antara mereka sebagi pemimpin perjalanan.” [HR. Abu Dawud. Menurut Al-Albani: Hasan].

Kedua: Jika seseorang telah memulai safarnya, hendaknya ia memperhatikan hal-hal berikut:

1. Memulai dengan doa safar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu `Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention berdoa dengan (firman Allah yang artinya): “(Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sungguh kami akan kembali kepada Tuhan kami). Ya Allah kami memohon di dalam safar kami ini kebajikan dan ketaqwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah ringankanlah bagi kami safar ini dan dekatkanlah jauhnya. Ya Allah Engkaulah yang menemani dalam safar dan pelindung bagi keluarga (yang ditinggalkan). Ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari kesulitan safar, penglihatan yang tidak menyenangkan dan tempat kembali yang buruk dalam harta dan keluarga kami.” Dan saat kembali dari safar beliau berdoa: “Kami kembali, kami bertaubat, kami menyembah dan memuji Tuhan kami.” [HR. Muslim].

2. Memulai safar dengan membaca beberapa ayat Al-Quran, supaya memasukkan ruh keimanan ke dalam safar tersebut, dan juga dengan dialog dalam beberapa probelm pendidikan dan masalah-masalah ilmiah.

3. Menyegarkan suasana dengan kisah-kisah menarik yang mengandung makna-makna yang baik.

4. Merenungkan ciptaan-ciptaan Allah yang ia saksikan, seperti gunung-gunung, lautan, padang pasir, sungai-sungai, hewan-hewan, tanam-tanaman dan sebagainya. Allah berfirman (yang artinya): “Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah...?” [QS. Al-A`raf: 185]. “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Ali `Imran: 190]

5. Membagi tugas di antara para musafir, supaya tidak hanya satu orang yang capek dengan tugas-tugas sementara yang lain hanya santai-santai saja.

6. Memberi kemudahan harta kepada keluarga yang ditinggal, tetapi tidak boleh melewati batas pemborosan.

7. Memutar kaset-kaset bermanfaat yang mengandung perenungan keimanan bagi para musafir.

8. Menyiapkan beberapa teka-teki dan pertanyaan serta menyediakan hadiah untuk itu walaupun bersifat simbolik.

9. Menjaga ibadah-ibadah wajib dan sunnat. Di antara ibadah sunnat tersebut ialah shalat sunnat dua rakaat sebelum Shubuh dan shalat witir, karena Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention tidak pernah meninggalkan shalat tersebut baik ketika mukim maupun dalam kondisi safar.

10. Dianjurkan bagi untuk malaksanakan shalat sunnat di atas hewan kendaraannya, baik siang maupun malam hari, kemanapun hewan kendaraannya menghadap, berdasarkan perbuatan Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention dalam hal ini. [Kitab Zadul Ma`ad, Ibnul Qayyim]. Namun dikecualikan dari hal ini jika shalat sunnat mengganggu keselamatan berkendara. Tidak boleh ia shalat sunnat dalam kondisi ini karena bertentangan dengan hal yang wajib yaitu kewaspadaan dalam berkendara. Ketika terjadai pertentangan antara yang wajib dan sunnat maka yang didahulukan adalah yang wajib.

11. Tetap menjaga dzikir pagi dan petang.

12. Jika singgah di suatu tempat maka dianjurkan membaca doa, sebagaimana diriwayatkan dari Khaulah Binti Hakim As-Sulaimiyyah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: ‘Barang siapa singgah di suatu tempat kemudian mengucap: ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan’, maka tidak ada sesuatu yang dapat membahayakannya sampai ia beranjak dari tempat singgahnya itu.” [HR. Muslim].

13. Jika (dalam perjalanan safar) Anda menanjak ke tempat yang tinggi maka dianjurkan untuk bertakbir, dan jika jalannya menurun maka dianjurkan untuk bertasbih. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibn `Abdullah  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata, “Kami, ketika kami naik (ke tempat yang tinggi) kami bertakbir dan ketika kami turun kami bertasbih.” [HR. Al-Bukhari].

14. Ketika masuk waktu sahur hendaknya mengucap dzikir sebagaimana diriwayatkan dari AbU Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa: Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention apabila dalam kondisi safar dan memasuki waktu sahur beliau mengucap: “Seorang pendengar menyimak puja-pujian kepada Allah dan kebaikan ujian-Nya kepada kita. Ya Tuhan kami, jagalah kami, karuniailah kami nikmat-Mu, kami memohon perlindungan kepada Allah dari api Nereka.” [HR. Muslim].

15. Memperbanyak doa dalam safar, karena doa seorang musafir tidak akan ditolak jika ia menjaga sebab-sebab terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Tiga doa yang senantiasa dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” [HR. At-Tirmidzi. Menurut Al-Albani: Hasan].

16. Bawalah beberapa buku tentang akidah dan shalat dalam beberapa bahasa, untuk mengambil manfaat darinya serta membagikannya kepada orang lain di perjalanan.

17. Jika telah tiba di Mekah maka jagalah teman-teman dan keluarga Anda. Manfaatkanlah waktu-waktu Anda untuk membaca Al-Quran, berdzikir, melaksanakan thawaf dan mengikuti pengajian-pengajian ilmu. Diriwayatkan dari Ibnu `Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Barang siapa melaksanakan tahwaf di Ka`bah dan shalat dua rakaat, maka pahalanya seperti pahala memerdekakan budak.” [HR. Ibnu Mâjah. Menurut Al-Albani: Shahih]. Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali lipat dibanding shalat di masjid-masjid lain. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Satu shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama seribu kali lipat dibanding shalat di masjid-masjid lain, dan satu shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali lipat dibanding shalat di masjid-masjid lain.” [HR. Ahmad].

18. Jika Anda telah tiba di Madinah maka laksanakanlah shalat di Masjid Nabawi, karena shalat di dalamnya lebih utama seribu kali lipat. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Satu shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali lipat dibanding shalat di masjid-masjid lain kecuali Masjidil Haram.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]. Jika Anda menziarahi makam Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention maka ucapkanlah salam kepada beliau dan kepada dua shahabat beliau (Abu Bakr dan `Umar) Semoga Allah meridhai keduanya. Ikutilah halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi, karena diriwayatkan dari Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata, Aku mendengar Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Barang siapa mendatangi masjiku ini, ia tidak mendatanginya melainkan untuk kebaikan yang ia pelajari atau ajarkan, maka kedudukannya seperti seorang mujahid di jalan Allah...” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Menurut Al-Albani: Shahih]. Shalatlah juga di masjid Quba’, karena diriwayatkan dari Sahl Ibn Hunaif  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Barang siapa bersuci di rumahnya lalu ia mendatangi masjid Qubâ’ dan melaksanakan shalat dua rakaat padanya maka ia mendapat pahala seperti pahala umrah.” [HR. Ibnu Majah].

19. Jika Anda melakuakan safar untuk rekreasi, boleh saja Anda mengadakan beberapa hiburan dan permainan yang mubah bersama keluarga dan anak-anak, guna memasukkan rasa bahagia di dalam hati mereka. Islam telah menganjurkan hal itu, karena Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention pernah melakukan perlombaan lari dengan `Aisyah  may  Allaah  be  pleased  with  them dalam sebuah safar dan `Aisyah mengalahkan beliau. Kemudian dalam kesempatan safar lainnya beliau berlomba lagi dengan `Aisyah dan beliau dapat mengalahakannya, lalu bersabda: “Kemenangan ini untuk kekalahan yang dulu.”

Artikel Terkait